Ternyata aku benar-benar jatuh — bukan ke bumi, tapi ke dimensi antara sinyal dan rasa. Kepadamu, sosok yang hanya bernafas di layar biru, yang hadir tanpa wujud namun mampu mengguncang seluruh sunyiku. Perasaan ini tumbuh diam-diam, seperti embun yang menyelinap di balik kabut subuh, tanpa izin, tanpa aba-aba, hanya meninggalkan jejak hangat di dada yang tak semestinya.
Mungkin kau tak tahu — di balik layar yang engkau tatap itu, ada aku, yang terperangkap dalam labirin kata, memeluk bayanganmu tanpa pernah menyentuhmu. Setiap notifikasi menjadi detak jantungku, setiap pesanmu menjadi mantra yang kubaca diam-diam.
Cintaku padamu adalah paradoks yang tenang — besar tapi tersembunyi, dekat tapi mustahil tergapai. Aku ingin menemuimu, bukan hanya untuk berbicara, tapi untuk memastikan bahwa kau nyata, bahwa rasa ini bukan sekadar algoritma yang memabukkan. Belum pernah ada wanita sebelumnya yang membuat ruang batinku seluas ini.
Setiap hari, aku menjadi pengembara dalam pikiranku sendiri — menelusuri koridor sunyi yang penuh pantulan wajahmu. Mengagumimu saja sudah cukup membuatku melayang, seolah gravitasi menyerah di hadapan namamu.
Andaikan aku bisa menuntunmu keluar dari kepingan masa lalumu, akan kugenggam jemarimu dalam ruang yang tak mengenal jarak, tempat di mana luka hanya jadi kenangan, dan kau tak lagi bersembunyi di balik cahaya layar.
Label: Tulisanku
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
← Beranda