Sebuah bisikan hati yang tersesat di antara ruang dan waktu
Di antara kabut yang menari di lembah sunyi,
kutemukan serpihan suaramu — samar, bagai doa yang tak sempat terucap.
Aku berjalan di antara bayangan, mencari siluetmu
yang pernah hadir dalam mimpi paling teduh.
Kau seperti fatamorgana di ujung cakrawala,
indah tapi menjauh setiap kali kudekati.
Aku terus menapak, walau langkahku tenggelam
di pasir waktu yang kian menelan kenangan.
Jika suatu saat angin membawa rinduku padamu,
biarlah ia menetap di jendela hatimu,
meski aku tak lagi ada — biar kau tahu,
bahwa cintaku abadi, meski tanpa wujud, tanpa suara.
— Ragel
Label: Tulisanku
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
← Beranda